Bincang Buku: Belajar Mendengarkan ala Mars dan Venus: Komunikasi Sehat Bukan Cuma Tentang Bicara

 

Menyimak Bab 2 Buku Men Are from Mars, Women Are from Venus “Mr. Fix-It and The Home Improvement Committee”



Nabila Syifa Ichwani

UGJ-TV, CIREBON – Pernah nggak sih kamu sebagai wanita cerita panjang lebar ke seorang pria, tapi malah dapet balasan kayak, “Yaudah tinggal dilakuin aja kok, kan gampang”? Padahal, yang diharapkan Cuma didengarkan... bukan langsung diberi solusi, seolah-olah masalahnya bisa selesai dengan satu kalimat. Nah, ternyata hal ini bukan cuma soal beda kepribadian aja, tapi bisa jadi karena kita emang literally berasal dari “planet” yang berbeda.

Dalam buku Men Are from Mars, Women Are from Venus yang terbit pada tahun 1992, John Gray mencoba menjelaskannya lewat analogi sederhana namun cukup menarik yaitu pria berasal dari Mars, dan wanita dari Venus.

Kenapa Mars dan Venus?

Dalam astrologi dan mitologi, Mars dikenal sebagai planet yang maskulin, penuh logika, solusi, dan tindakan. Sementara Venus adalah lambang dari emosi, kehangatan, dan empati. Lewat analogi ini, Gray menggambarkan bahwa pria dan wanita memiliki bahasa cinta dan cara berpikir yang sangat berbeda, seolah berasal dari dua planet yang tidak saling memahami... sampai akhirnya mereka “tinggal bersama di Bumi.”

Di Bab 2 buku ini, Gray bahas tentang dua karakter utama: “Mr. Fix-It” yang mewakili pria, dan “Home-Improvement Committee” yang menggambarkan wanita. Intinya? Cowok cenderung pengen menyelesaikan masalah dengan solusi, sementara cewek lebih butuh didengarkan dan divalidasi perasaannya. Sounds familiar?

Gray menjelaskan kenapa pria cenderung langsung lompat ke solusi, karena pada saat seseorang datang dengan masalah, itu berarti mereka sedang meminta bantuan. Jadi, wajar kalau cowok merasa wajib menawarkan solusi supaya masalahnya cepat selesai. Gray juga menjelaskan bahwa pria dari Mars merasa harus jadi problem-solver karena dari sanalah mereka dapat validasi diri, yaitu merasa berguna, merasa kompeten, dan merasa dihargai. Kalau solusi mereka ditolak atau dianggap “nggak peka”, cowok bisa merasa gagal dalam perannya.

Nah berbeda dengan cewek yang berasal dari Venus, mereka akan merasa lebih baik jika semua keluhannya didengarkan dan divalidasi. Cukup dengan ucapan, “aku ngerti kok kenapa kamu kesel, wajar banget sih”. Karena pada dasarnya wanita lebih menaruh perhatian pada pengungkapan perasaan daripada penyelesaian masalah. Buat wanita, komunikasi emosional adalah kebutuhan utama.

Selain itu, wanita biasanya lebih peka dan peduli terhadap sekitar. Karena itu, mereka sering memberikan nasihat atau saran sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang. Namun, pria sering kali tidak terlalu suka dinasihati atau dikritik, apalagi jika tidak diminta. Mereka lebih menghargai dukungan diam-diam dan kepercayaan bahwa mereka bisa menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri. Dukungan dan penerimaan adalah bentuk penghargaan yang paling pria butuhkan.

Buku ini relatable buat siapa pun yang sedang menjalani hubungan—entah masih PDKT, sudah pacaran lama, bahkan yang sudah menikah. Coba deh pikirin: seberapa sering kita merasa kesal karena pasangan terlihat nggak ngerti perasaan kita? Padahal, bisa jadi mereka sedang menunjukkan rasa sayangnya... Cuma caranya aja yang berbeda. Bukan karena nggak peduli, tapi karena “bahasa cintanya” memang nggak sama.

Dan kalau dipikir-pikir, itulah titik yang sering bikin hubungan jadi rumit: bukan karena nggak sayang, tapi karena cara menyampaikannya beda, tapi sayangnya... nggak semua orang paham cara menerima perbedaan itu.

Pada akhirnya, hal paling penting dalam hubungan tuh bukan soal siapa yang lebih ngerti atau lebih bener... tapi soal komunikasi yang jelas. Gimana kita bisa saling ngasih ruang buat didengar, dan nggak langsung nge-judge atau buru-buru kasih tanggapan.  Mau berasal dari “Mars” atau “Venus”, perbedaan cara berpikir bukan alasan untuk saling salah paham — justru jadi peluang untuk saling belajar. Soalnya, hubungan yang awet itu nggak selalu soal hal-hal besar. Kadang cukup dari hal kecil kayak mau dengerin dulu sebelum menanggapi, kalau kita bisa saling memahami, kita bisa mencegah banyak konflik yang sebenarnya nggak perlu terjadi.

Karena yang bikin hubungan bertahan lama itu  bukan seberapa cepat masalahnya selesai, tapi seberapa tulus kita pengen ngerti satu sama lain.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

UGJ-TV

Luar Biasa! Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Swadaya Gunung Jati Sukses Gelar Seminar Budaya yang Hadirkan Pakar Internasional.

Penuh Antusias Himpunan Mahasiswa Dikstrasia UGJ Sukes Gelar Seminar Raya Diskusi Sastra