Bincang Buku: Menjaga Ketenangan di Tengah Hidup yang Tak Sesuai Harapan Pada Bab 6 Filosofi Teras
Hidup Tak Selalu Berjalan Sesuai Keinginan, Lantas Bagaimana Kita Menjaga Ketenangan? Bab 6 “Filosofi Teras” Mengajarkan Seni Memperkuat Mental
Krispina Ika Kartika, Dwi Riyanto
UGJ-TV, CIREBON — Pernahkah kita merasa kesal karena perkataan orang
lain atau terlalu memikirkan pendapat mereka? Hal seperti ini kerap kita alami
dalam kehidupan sehari-hari. Menariknya, buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring
mengajak kita melihat berbagai persoalan tersebut dari sudut pandang yang
berbeda. Bahasa yang digunakan cukup ringan dan menyajikan contoh yang dekat
dengan kehidupan sehari-hari. Berbagai pertanyaan yang mungkin muncul dalam
benak kita pun dapat terjawab melalui buku ini.
Pada bab 6, pembaca diajak memahami pentingnya
mengelola emosi melalui sudut pandang filosofi Stoa. Dalam kehidupan
sehari-hari, kita tidak bisa mengendalikan perkataan orang lain, selalu
mendapatkan situasi sesuai harapan, atau menghindari setiap masalah. Oleh
karena itu, filosofi Stoa mengajarkan bahwa ketenangan bukan berarti hidup
tanpa masalah, melainkan kemampuan menghadapi masalah tanpa membiarkan emosi
mengambil alih kendali diri.
Pernah membayangkan berbagai kemungkinan buruk sebelum
melakukan sesuatu? seperti kita terlalu takut gagal, takut ditolak, takut
mengecewakan, atau takut kenyataan tidak berjalan sesuai harapan. Dalam
filosofi Stoa, ada konsep Premeditatio Malorum, yaitu membayangkan
kemungkinan buruk sebagai bentuk persiapan mental. Ibarat menyiapkan ban serep
sebelum perjalanan jauh, kita bukan berharap masalah datang, melainkan bersiap
jika hal itu terjadi. Begitu juga hidup, kita tidak bisa memastikan semuanya
berjalan sesuai keinginan, tetapi kita bisa belajar menerima kemungkinan
terburuk tanpa kehilangan keberanian untuk melangkah. Sebab, terkadang yang
paling melelahkan bukanlah kenyataan yang kita hadapi, melainkan ketakutan yang
kita ciptakan sendiri sebelum semuanya benar-benar terjadi.
Selain mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan
buruk, bab ini juga memperkenalkan konsep Amor Fati, yaitu mencintai atau
menerima segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan. Menerima kenyataan bukan
berarti kita harus menyukai semua hal yang terjadi, apalagi berhenti berusaha
memperbaiki keadaan. Sebaliknya, kita belajar memahami bahwa tidak semua hal
berjalan sesuai keinginan. Ada hal yang bisa kita ubah, tetapi ada pula hal
yang harus kita terima. Misalnya, ketika rencana yang sudah disusun dengan
matang ternyata gagal. Kita boleh merasa kecewa, tetapi tidak perlu terus
menyalahkan keadaan. Daripada menghabiskan waktu memikirkan sesuatu yang sudah
terjadi, kita bisa mulai bertanya, “Apa yang bisa aku pelajari dari kejadian
ini?”. Dengan cara pandang tersebut, kegagalan tidak lagi sekadar menjadi
sumber kekecewaan, tetapi juga kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Komentar negatif, unggahan
yang sepi interaksi, hingga penilaian orang lain terkadang membuat kita lupa
bahwa tidak semua hal pantas menguras pikiran. Jika kritik membangun, jadikan
pelajaran. Namun, jika hanya menyakiti tanpa memberi manfaat, belajarlah
melepaskannya. Kita memang tidak bisa mengendalikan pendapat orang lain, tetapi
kita bisa memilih bagaimana meresponsnya.
Begitu pula saat menghadapi
penolakan atau kegagalan. Rasanya menyakitkan ketika usaha tidak dihargai atau
kesempatan jatuh ke tangan orang lain. Namun, satu penolakan bukan berarti kita
tidak cukup baik. Daripada terus menyalahkan diri sendiri, jadikan pengalaman
itu sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Sebab, kita tidak harus selalu berhasil
untuk membuktikan bahwa diri kita berharga.
Di tengah perbedaan pendapat,
kita juga tidak harus memenangkan setiap perdebatan. Setiap orang memiliki
pengalaman dan sudut pandang yang berbeda. Terkadang, memahami tanpa harus
menyetujui jauh lebih bijak daripada membalas dengan amarah.
Pada akhirnya, bab 6 Filosofi
Teras mengajarkan bahwa memperkuat mental bukan berarti tidak pernah sedih,
kecewa, atau takut, melainkan belajar menghadapi emosi tanpa membiarkannya
menguasai diri. Sebab, kita tidak bisa mengendalikan segala sesuatu yang
terjadi, tetapi jangan sampai hal-hal di luar kendali justru membuat kita
kehilangan ketenangan dalam menjalani hidup.

Komentar
Posting Komentar