SANGAT MERIAH! SEMARAK MAULID NABI 1448 H, TRADISI PANJANG JIMAT HIDUP DI TIGA KERATON
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan Menghadirkan Perpaduan Nilai Keagamaan dan Budaya
Dwi Riyanto, Krispina Ika Kartika
UGJ-TV,
Cirebon - Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriyah kembali
diperingati di berbagai wilayah, termasuk Kota Cirebon. Bagi masyarakat
Cirebon, peringatan ini bukan hanya tentang kegiatan keagamaan, tetapi juga
menjadi kesempatan untuk melihat kembali tradisi yang sudah menjadi bagian dari
kehidupan masyarakat.
Pada
Rabu, 26 Agustus 2026, sejumlah keraton di Cirebon mulai menggelar rangkaian
peringatan Maulid Nabi. Salah satu tradisi yang menjadi perhatian adalah
Panjang Jimat, yaitu rangkaian prosesi adat yang digelar oleh keraton sebagai
bagian dari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam pelaksanaannya,
tradisi ini diisi dengan berbagai prosesi dan kirab yang melibatkan abdi dalem.
Dari
satu keraton ke keraton lainnya, suasana yang terlihat ternyata tidak
sepenuhnya sama. Ada prosesi kirab, lantunan shalawat, hingga berbagai kegiatan
lain yang membuat peringatan Maulid Nabi terasa semakin hidup. Lalu, seperti
apa suasana Panjang Jimat di masing-masing keraton? Kami telah merangkum
jalannya peringatan Maulid Nabi dari tiga lokasi, yaitu Keraton Kasepuhan,
Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan.
Pada Keraton Kanoman, rangkaian Panjang Jimat kembali diwarnai dengan kirab yang membawa berbagai benda pusaka dari keraton menuju Masjid Agung Kanoman. Namun, ada pemandangan yang menarik dalam barisan kirab kali ini. Bukan hanya para abdi dalem, perawan sunti juga turut berjalan dalam rombongan, menjadi bagian dari tradisi yang hingga kini masih dipertahankan. Kirab kemudian bergerak menuju Masjid Agung Kanoman dengan diikuti antusiasme masyarakat yang memadati jalur perjalanan. Sesampainya di masjid, suasana berubah menjadi lebih khidmat. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan prosesi di dalam masjid yang dilaksanakan secara tertutup, sementara masyarakat tetap menunggu di sekitar area masjid.
Hal
tersebut juga disampaikan oleh Pangeran Patih Amarudin. Menurutnya, pelaksanaan
Maulid Nabi tidak hanya menjadi bagian dari tradisi yang dilakukan setiap
tahun, tetapi juga memiliki makna penting bagi masyarakat. Peringatan ini dapat
menjadi pengingat untuk mengenal dan menerapkan sifat-sifat terpuji yang
dimiliki Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. “Kegiatan Maulid Nabi
ini mengingatkan kita untuk mengikuti sifat-sifat dari Nabi Muhammad SAW dalam
kehidupan sehari-hari,” Ujarnya.
Prosesi Panjang Jimat juga dilaksanakan di
Keraton Kacirebonan dimulai dengan kirab membawa berbagai benda pusaka dari
pendopo menuju masjid di sekitar keraton. Kirab diikuti para abdi dalem dan
keluarga keraton, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang berlangsung
khidmat. Menariknya, Putra Mahkota Kesultanan Kacirebonan, Elang Raja Kusuma
Natadiningrat, turut mengikuti kirab. Setelah doa di masjid, rombongan kembali
ke pendopo untuk melanjutkan prosesi, termasuk momen Elang melakukan sungkem
kepada kedua orang tuanya.
Keraton Kacirebonan juga membuka ruang kebersamaan dengan masyarakat. Mereka dipersilakan menikmati hidangan yang disediakan, sehingga masyarakat tidak hanya menyaksikan tradisi, tetapi turut merasakan suasana perayaan. Salah satu wawancara kami dilakukan bersama Bapak Jakasura, selaku Senopati Pasukan Wadyabala Kesultanan Kacirebonan. Dalam wawancara tersebut, beliau menyampaikan bahwa salah satu tantangan dalam menjaga keberlangsungan prosesi Panjang Jimat adalah bagaimana menarik minat generasi muda. “Tantangan terbesar kami dalam menjaga prosesi Panjang Jimat memang dari ketertarikan generasi muda. Jadi, kita harus bisa mengajak generasi muda untuk terus mengenal dan mempelajari setiap budaya yang ada di Kota Cirebon.” Ujarnya.
Peringatan
Maulid Nabi juga berlangsung di Keraton Kasepuhan, melalui rangkaian tradisi
Panjang Jimat yang menjadi bagian penting dan telah dilaksanakan secara
turun-temurun. Suasana di kawasan Keraton Kasepuhan tampak ramai oleh
masyarakat yang ingin menyaksikan langsung rangkaian kegiatan muludan. Dalam
prosesi tersebut, para abdi dalem membawa berbagai benda pusaka dan
perlengkapan keraton sebagai bagian dari kirab. Rangkaian ini tidak hanya
menjadi bagian dari kegiatan keagamaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana
tradisi dan budaya Cirebon terus dipertahankan dari generai ke generasi.
Dalam
sesi wawancara Pangeran Raja Goemelar Soerjadiningrat sebagai patih sepuh
Keraton Kasepuhan, menyampaikan “Ini adalah tradisi yang rutin dilaksanakan
setiap tahun, intinya acara ini memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW,
dengan konsep adat dan tradisi Panjang Jimat warisan dari leluhur”. Melalui
pelaksanaannya, nilai-nilai keagamaan dalam memperingati kelahiran Nabi
Muhammad SAW berpadu dengan tradisi dan budaya yang menjadi identitas Keraton
Kasepuhan. Selain menjadi peringatan keagamaan, tradisi ini juga menjadi bentuk
penghormatan terhadap warisan leluhur yang terus dijaga dan dilestarikan hingga
kini.
Keberlangsungan tradisi seperti ini menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan antara nilai keagamaan, Sejarah, dan kebudayaan. Semarak Maulid Nabi di beberapa keraton menjadi salah satu gambaran bahwa tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi masih mendapat tempat di Tengah antusiasme masyarakat hingga kini.




Komentar
Posting Komentar