Bincang Buku: Menyelami Cinta Yang Mekar Dan Takdir Yang Menggugurkan Dalam Puisi “Sonet: Hei! Jangan Kaupatahkan” Karya Sapardi Djoko Damono
Sebuah Renungan Untuk Jiwa Yang Pernah Menggenggam Cinta Tanpa Pernah Benar-Benar Memilikinya Melalui Puisi “Sonet: Hei! Jangan Kaupatahkan” Karya Sapardi Djoko Damono
UGJ-TV, CIREBON –
Bagaimana jika kamu mencintai seseorang hingga rasanya seluruh hidupmu
ikut bernapas melalui dirinya, seolah setiap langkah, setiap detak kecil dalam
tubuhmu selalu mencari jejak kehadirannya. Namun, ketika kamu sedang begitu
yakin pada perasaanmu, dunia justru berbisik pelan nyaris tak terdengar namun
cukup untuk membuatmu goyah : “Kalian tidak ditakdirkan untuk bersama.”
Bagaimana jika kamu berada dalam
sebuah hubungan yang penuh kasih, di mana kalian saling menjaga, saling
menguatkan, dan saling menemukan satu sama lain tetapi setiap kali kalian
mencoba melangkah lebih dekat selalu ada tembok yang menjulang terlalu tinggi
untuk dilewati seakan-akan dunia memang tidak pernah benar-benar berniat
memberi kalian ruang untuk saling bertahan dan mencintai.
Banyak orang pernah merasakan
getirnya mencintai seseorang yang tak pernah sepenuhnya bisa mereka miliki,
cinta yang membuat kehadirannya terasa seperti rumah tempat mereka berpulang
saat dunia terasa terlalu berisik namun sehangat apa pun rumah itu menyambut
kita selalu ada saat di mana kita harus melangkah pergi, sebab tidak semua yang
memberi pulang adalah tempat yang bisa ditinggali selamanya. Perasaan seperti itu sering kali sulit
dijelaskan karena ada rindu yang menetap, ada harapan yang tumbuh, tetapi ada
pula kenyataan yang perlahan memisahkan dan menyadarkan kita. Namun justru dari
kerumitan yang tak pernah benar-benar selesai itulah, ada satu nama yang sejak
lama hadir dan mampu mengubahnya menjadi untaian kata yang indah dan terasa
seperti pelukan hangat bagi siapa pun yang membacanya ialah Bapak Sapardi Djoko Damono.
Memang banyak sekali penyair di
negeri ini, tetapi hampir semua orang pernah, setidaknya sekali dalam hidupnya,
jatuh cinta pada puisi-puisi karya Bapak Sapardi Djoko Damono. Beliau dikenal
sebagai sosok yang mampu menuliskan perasaan manusia dengan begitu sederhana
dan tenang namun tetap menyentuh sampai ke bagian hati yang terdalam. Puisinya
tidak pernah rumit, tidak pernah berusaha menggurui tetapi justru karena
kesederhanaan itulah karya nya terasa begitu dekat dengan hidup kita, dengan
cinta yang tumbuh perlahan, dengan kehilangan yang datang diam-diam, dan dengan
perasaan-perasaan yang seringkali tak sanggup kita jelaskan melalui kata-kata.
Namun seperti waktu yang selalu
punya caranya tersendiri untuk memisahkan kita dari orang-orang yang kita
cintai, demikian pula ia memisahkan kita dari seorang penyair dan sastrawan
yang namanya begitu membekas di hati para pecinta sastra: Bapak Sapardi Djoko
Damono. Meski beliau telah kembali kepada Sang Pencipta, namun setiap bait yang
ia tinggalkan akan selalu hidup, selalu dikenang, dan selalu menemukan rumah
baru di hati siapa pun yang membacanya.
Ada banyak sekali puisi indah yang
lahir dari tangan Bapak Sapardi Djoko Damono, tetapi ada satu puisi yang
sebenarnya begitu dalam makna nya namun jarang sekali dibicarakan oleh banyak
orang. Puisi ini berjudul “Sonet: Hei!
Jangan Kaupatahkan." puisi ini
tampak sederhana hanya berbicara tentang bunga yang hendak mekar, akar yang
menjalar perlahan, dan alam yang bekerja dalam diam. Namun justru dalam
kesederhanaan nya itu, puisi ini justuru menyimpan sesuatu yang tak mudah
diucapkan oleh banyak orang tentang luka yang tak terlihat, tentang ketabahan
yang tidak pernah meminta dipahami, tentang sesuatu yang sedang berusaha tumbuh
meskipun dunia kerap membuatnya hampir menyerah.
Puisi ini muncul dalam manuskrip
puisi “Hujan Bulan Juni”, sebuah karya yang diam-diam menyimpan luka yang tidak
pernah benar-benar sembuh. Dalam manuskrip tersebut, puisi “Sonet: Hei! Jangan
Kaupatahkan” bukan hanya rangkaian bait yang indah namun puisi ini menjadi gema
kecil dari pergulatan batin tentang sesuatu yang tumbuh perlahan, sesuatu yang
berjuang meski ia tahu dunia bisa mematahkannya kapan saja.
Ketika membaca dan memahami puisi
ini, ingatan saya pun terbawa pada novel Hujan Bulan Juni yang menceritakan
kisah Sarwono dan Pingkan, dua jiwa yang saling mencintai namun hidup di dunia
yang tidak sepenuhnya memeluk cinta mereka. Sarwono, lelaki Jawa yang lembut
dan penuh kehati-hatian sementara Pingkan, perempuan berdarah Manado yang hidup
di antara tuntutan keluarga dan batas-batas budaya. Mereka bertemu sebagai
akademisi yang saling memahami lewat pikiran, tetapi saling terluka oleh
kenyataan. Cinta mereka tidak retak karena kurang rasa, tapi justru karena
terlalu banyak yang harus mereka pertimbangkan mulai dari budaya, agama,
keluarga, harapan, bahkan cara memandang hidup. Ada batas-batas yang tidak
mereka ciptakan, tapi harus mereka patuhi.
Karena itu, ketika puisi “Sonet:
Hei! Jangan Kaupatahkan” muncul dalam manuskrip Hujan Bulan Juni, puisi ini
terasa seperti gema kecil dari kisah Sarwono dan Pingkan, kisah tentang sesuatu
yang tumbuh dengan pelan, penuh harapan, namun selalu berada di ambang
kehilangan karena dunia tidak benar-benar memberi ruang. Puisi ini seperti
suara kecil dari sebuah cinta yang tidak menuntut untuk dimenangkan. Ia hanya
ingin dipahami, dijaga, dan diberi kesempatan untuk hidup meskipun pada
akhirnya dunia tetap memaksanya patah.
Bapak Sapardi Djoko Damodo membuka puisi ini dengan seruan “hei!”, sebuah panggilan singkat yang terdengar seperti rasa cemas yang bercampur harapan dari seseorang yang ingin menghentikan sesuatu sebelum terlambat. Seruan itu membuat kita menoleh, seolah ada sesuatu yang penting sedang berusaha ia selamatkan. Pada saat itulah bunga itu muncul, ia hadir seperti isyarat dari sebuah perasaan yang baru tumbuh. Perasaan itu masih rapuh, masih mencari tempat untuk berpegang, dan belum pernah benar-benar disentuh atau dipahami. Karena itu, ketika muncul kalimat “jangan kaupatahkan”, baris itu terasa seperti permintaan agar sesuatu yang rapuh diberi kesempatan untuk hidup seolah ada harapan kecil yang ingin bertahan sebelum dunia memaksanya hilang.
Selanjutnya pada bait:
“ia sedang mengembang; bergoyang-goyang dahan-dahannya yang tua
yang telah mengenal baik, kau tahu, segala perubahan cuaca”
Dalam bait ini, bunga digambarkan
sedang mengembang di atas dahan-dahan yang sudah tua. Gambaran itu membuat kita
memahami bahwa bunga tersebut sebenarnya melambangkan perasaan baru yang mulai
tumbuh di dalam diri seseorang. Perasaan yang lembut, hangat, dan penuh
harapan, seperti saat kita mulai menyukai seseorang atau kembali percaya pada
cinta setelah lama menutup diri. Sementara itu, dahan tua adalah gambaran dari
hati yang sudah banyak mengalami luka dan kecewa, artinya hati yang sudah paham
bagaimana dunia bisa melukai dan membuat kita jatuh. Ketika bunga itu bergoyang
pelan di dahan yang sudah penuh pengalaman, di situlah letak harunya karena ada
perasaan baru yang tumbuh di hati yang pernah retak tetapi tetap ingin mencoba
lagi. Bait ini juga sebagai sebuah pengingat bahwa bahkan hati yang paling
lelah pun masih bisa memberi ruang untuk harapan kecil yang pelan-pelan ingin
hidup.
Pada bait kedua, saat akar-akar
digambarkan “sabar menyusup dan menjalar”,
Bapak Sapardi Djoko Damodo seakan menjelaskan bagaimana cinta hadir dengan cara
yang paling diam. Perasaan itu tidak datang dengan ribut atau tiba-tiba. Ia
muncul perlahan, mencari celah kecil di hati kita, lalu menetap tanpa kita
sadari. Sama seperti ketika kita mulai menyukai seseorang tetapi tidak berani
mengatakan apa pun lalu kita hanya menyimpannya dalam diam, berharap perasaan
itu tidak terluka sebelum sempat kita ungkapkan.
Lalu ketika “hujan turun setiap bumi hampir hangus terbakar”, kalimat ini yang
terasa sangat dekat dengan kehidupan percintaan. Ada saat-saat ketika hubungan
atau perasaan hampir runtuh karena adanya kesalahpahaman, ada jarak yang tidak
diinginkan, ada keadaan yang membuat semuanya terasa berat seperti dunia memaksa
kita untuk menyerah. Namun selalu ada hal kecil yang datang menyelamatkan
layaknya “hujan” yang diibaratkan
seperti perhatian sederhana, pesan singkat yang menenangkan, atau kehadiran
seseorang yang tetap tinggal. Hal kecil itu mungkin terlihat sepele, tetapi
justru itulah yang membuat hati yang hampir padam kembali menemukan cahaya nya
kembali.
Lalu ketika “mekarlah bunga itu perlahan-lahan dengan gaib”, di situlah inti
dari cinta yang paling jujur terlihat. Keajaiban cinta tidak muncul dari
keadaan sempurna, tetapi dari keberanian dua hati untuk tetap percaya meski
mereka pernah ragu, pernah takut, pernah hampir menyerah. Hubungan yang tumbuh
seperti bunga itu tidak mekar dalam sekejap, tidak muncul karena dipaksakan. Ia
tumbuh perlahan karena kedua hati memberikan ruang satu sama lain. Ada luka,
ada air mata, ada ketidakpastian namun ada juga harapan yang tidak mau mati dan
dari situlah cinta akhirnya menemukan bentuknya yakni sunyi, sederhana, tetapi
tetap hidup.
Bait ketiga dalam puisi ini adalah bagian paling perih dari puisi Sonet: Hei! jangan kau patahkan. Pada kalimat:
“Jangan; saksikan saja dengan teliti
bagaimana matahari memulasnya
warna-warni”
Kalimat ini seolah mengingatkan kita
bahwa tidak semua hal bisa kita pertahankan. Ada waktunya kita berhenti
memaksa, berhenti mengatur, dan hanya membiarkan sesuatu berjalan sebagaimana
mestinya karena Kita bukan pengarah cerita, hanya penonton yang belajar
menerima apa pun yang sedang terjadi dan ketika kita mulai belajar melepas yang
kita cintai, barulah terlihat bahwa keindahan sering muncul tepat sebelum
sesuatu berakhir seperti matahari yang memberi warna pada bunga yang membuatnya
tampak hidup dan cantik padahal keindahan itu hanyalah cahaya terakhir sebelum
hilang. Dalam cinta, kita sering merasakan hal serupa yaitu masa-masa menjelang
perpisahan justru terasa paling hangat, seolah masih ada harapan padahal kita
diam-diam sedang bersiap melepaskan.
Kemudian Sapardi menulis tentang
matahari yang “membunuhnya dengan
hati-hati sekali dalam kasih sayang, dalam rindu-dendam alam.” Bagian ini sangat menyayat hati karena yang
merawat adalah juga yang mengakhiri. Sama seperti hubungan yang tampak penuh
perhatian, penuh rindu, penuh kebaikan tetapi tetap berjalan menuju perpisahan
yang pelan dan pasti. Kadang dunia seperti merangkul cinta kita, padahal ia
sedang mengarahkannya menuju akhir dari kisah cinta kita.
Dan ketika bunga itu “terkulai
perlahan-lahan dengan indah sekali, tanpa satu keluhan,” di situlah sakit yang
paling sunyi muncul. Bunga itu jatuh tanpa protes, tanpa menuntut, seolah
menerima akhir yang tidak bisa ia hindari. Ini mengingatkan pada seseorang yang
memilih melepaskan bukan karena rasa cintanya hilang, tetapi karena ia sadar
bahwa hubungan itu sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Dari luar mungkin
tampak tenang bahkan indah, tetapi di dalam hati terasa seperti runtuh,
perlahan, tanpa suara.
Pada akhirnya, puisi “Sonet: Hei!
Jangan Kaupatahkan” mengingatkan kita bahwa tidak semua yang kita sayangi bisa
tinggal bersama kita selamanya dan tidak setiap cinta yang indah berakhir
seperti yang kita inginkan. Namun di situlah letak keindahan karya Bapak
Sapardi Djoko Damono karena melalui kata-kata yang dituliskannya, ia membuat
kita berani menatap rasa sakit tanpa merasa sendirian. Melalui bunga yang mekar
lalu luruh dalam diam, kita belajar bahwa kehilangan tidak selalu berarti
kekalahan. Terkadang melepaskan adalah cara paling lembut untuk mencintai dan
merelakan adalah bentuk keberanian yang sering kali tidak kita sadari. Puisi
ini mengajarkan kita bahwa setiap rasa yang pernah hidup sekecil apa pun tetap
layak dihargai. Meskipun pada akhirnya ia harus gugur, keberadaannya yang
pernah tumbuh sudah menjadi sebuah anugerah yang layak disyukuri dan dikenang.
“Pada akhirnya, kita semua hanyalah kenangan yang tertimggal di hati orang-orang yang pernah kita cintai." — Sapardi Djoko Damono
Komentar
Posting Komentar