Bincang Buku : Memperkuat Mental Ala Stoik Lewat Bab 6 “Filosofi Teras”

 

Melihat Hidup dari Sisi Lain dan Belajar Tenang Bersama
Bab 6 “FILOSOFI TERAS “

Yunianur Anggraeni

UGJ-TV, CIREBON   Kadang hidup memang ngga berjalan sesuai rencana—ada aja hal kecil yang bikin jengkel, nyesek, atau bahkan bikin kita bertanya “Kenapa sih harus aku?” Tapi lewat bab 6 Filosofi Teras, aku belajar bahwa cara terbaik menghadapi hidup bukan dengan menolak hal buruk, melainkan dengan memperkuat mental lewat 2 hal: premiditatio malorum dan amor fati —membayangkan kemungkinan buruk dan mencintai segala yang terjadi.

Pernah gak sih, kalian kebanyakan mikir sampai cemas sendiri? Kadang, hal – hal yang kita takutin ternyata gak separah itu. Stoisisme—atau filsafat stoa—ngajarin hal yang kelihatannya sederhana tapi dalem banget: hadapi kemungkinan terburuk itu sebelum terjadi. Seneca pernah bilang “Anggaplah apa yang kamu khawatirkan mungkin terjadi, pasti terjadi ; lalu kalian pikirin sungguh-sungguh … kalian akan sadar, ternyata gak separah itu”.

Logikanya, kalau kita udah nyiapin mental buat hal buruk, kita malah jadi lebih siap, lebih tenang. Kaya mau road trip jauh—kalau udah mikirin kemungkinan ban bocor, otomatis kita siapin ban serep, dongkrak, sampai kunci roda. Bukan pesimis, tapi realistis.

Sama juga kayak saat kita mau ngungkapin perasaan ke seseorang. Misal, ada cowok jomblo yang mau ngungkapin perasaan nya tapi takut ditolak. Kalo dia pakai cara Stoik, dia bakal mikir “yang paling buruk apa? Ditolak kan?” Nah, kalau ditolak, ya bukan akhir dunia. Malah justru lega karna udah tau jawabannya, gak digantung. Kadang berpikir tentang kemungkinan buruk justru lebih bikin kita lebih siap—dan anehnya, lebih bahagia.

Marcus Aurelius, seorang Kaisar Romawi aja masih nulis jurnal buat ngingetin dirinya biar gak stress. Padahal, beban dia pasti luar biasa. Artinya, bahkan orang paling sibuk sekalipun masih butuh “naik level” dalam hal ketenangan.

Hal ini juga dirasain oleh Llian—seorang pengusaha media perempuan yang juga mengenal Stoisisme. Buat dia, ajaran kuno ini tetap relevan banget di zaman sekarang yang penuh tekanan dan ribetnya media sosial. Katanya, kuncinya cuma satu : santai aja. Kalau ada timun pahit, buang aja. Jalan rusak? Belok aja. Jangan dibikin susah. Banyak orang sekarang yang stress karena hal – hal kecil yang sebenarnya gak penting.

Contohnya, followers gak nambah, di-unfollow orang, atau di komentarin netizen. Padahal kalau tau tujuan hidup kita, hal kaya gitu tuh receh banget. “The ability to brush off problems” kata Llia, “itu skill nomor satu di zaman sekarang.”

Dia juga cerita, waktu bajunya di setrika sampai bolong, bukannya marah, dia malah bilang “Buang aja.” Karena dari awal dia udah sadar: semua barang pasti bisa rusak, bisa hilang. Ngomel gak akan memperbaiki apa pun, malah buang – buang energi.

Atau waktu dia lepas jilbab dan diserang netizen—bukannya panik, dia malah nulis blog berjudul “Ollie Lepaas Hijab” biar sekalian nambah traffic. Woles banget. Karena bagi dia, Stoik = tenang = woles

Dalam dunia bisnis pun, Stoisisme bisa jadi tameng. Rejection dari investor, penolakan pelanggan, sampai complain pembeli—semua itu bagian dari proses. Kalau tiap kali ditolak terus baper tiga hari, gimana mau maju?

Llia bilang “saat orang bilang ‘ngga’, jangan diambil pribadi.” Fokusnya bukan di egonya, tapi di solusi : kenapa ditolak dan apa yang bisa diperbaiki.

Jadi pengusaha juga butuh kepala dingin. Marah ke karyawan cuma bikin ego puas sesaat, tapi gak menyelesaikan masalah. Kadang, yang lebih penting Adalah mikir “Oke, gimana caranya ini gak kejadian lagi”

Terakhir, soal politik dan sosial. Di zaman sekarang, gampang banget orang kebelah gara – gara beda pandangan. Llia ngingetin bahwa “Kita semua ini sama.”

Perbedaan agama, suku, pilihan politik—itu cuma ilusi perbedaan. Kita lupa asalnya sama, tujuannya pun mirip: pengen hidup baik dan damai.

Masalahnya, media sosial sering bikin kita lupa sisi itu. Padahal, kalau kita coba ngerti sudut pandang orang lain, semuanya masuk akal kok. Setiap orang punya realitas dan cerita masing – masing.

Intinya :

Santai aja. Jangan buang energi buat hal yang gak penting.

Jangan biarin media sosial dan politik nyuri ketenanganmu.

Dan kalau hidup udah mulai ribet, inget prinsip Stoa:

“Kalau bisa dikendalikan, lakukan. Kalau gak bisa, lepaskan”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UGJ-TV

Luar Biasa! Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Swadaya Gunung Jati Sukses Gelar Seminar Budaya yang Hadirkan Pakar Internasional.

Penuh Antusias Himpunan Mahasiswa Dikstrasia UGJ Sukes Gelar Seminar Raya Diskusi Sastra